Aku mengaduk kopiku yang sudah lagi tak hangat. Duduk di pojok ruangan kafe samping jendela, menatap matahari terbenam sembari menenggelamkan kepalaku sejenak. Aku berpikir keras bagaimana ia sesaat membuatku bahagia, namun esoknya ia berubah.
Aku ralat.
Ia tidak pernah berubah. Ia tetap dirinya. Aku yang berubah.
Dulu ia membuatku bahagia karena tak pernah terbesit di otakku bahwa kelak aku mencintainya. Dulu segalanya membahagiakan ketika perasaan ini belumlah tumbuh. Dulu tidak ada rasa pahit dan menyedihkan karena justru ia penghibur hati di kala merana.
Aku berubah.
Rasa-rasa yang tetiba muncul, berharap lebih kepadanya, menggantungkan beribu perasaanku berbalas dari seorang pria sepertinya? Hah, ia tak akan pernah memandangku. Matanya jauh menatap masa depan dan aku hanyalah seseorang dibalik bayangnya. Ia mempunyai jiwa petualang, terbang bebas bersama cita dan angan, bukan cinta yang aku damba-dambakan.
Aku terpaku pada buku yang seharusnya kupelajari. Menatap sederet angka dan kalimat yang harus kukerjakan, meneliti setiap pilihannya, dan mencoreng salah satu pilihanku. Aku sedang tidak ingin berargumentasi dengan perasaanku yang tak pasti. Lebih baik aku belajar demi masa depanku, tetapi ia seolah memberiku harapan akan hari yang lebih baik. Aku menatapnya dari balik layar, ia tidak bersua dan tidaklah terlihat. Aku tak tahu bagaimana suaranya memanggilku, berapa tinggi dan berat badannya, berapa ukuran sepatunya, atau apa pewangi pakaian yang ia kenakan di bajunya. Tidak terbesit di otakku bahwa selama ini aku telah mengenalnya sejak lama, ia hanya sejauh pandanganku. Dan ketika ia memang benar-benar jauh dariku, aku mencarinya. Berharap ia memberikanku sepucuk harapan, namun yang ia rasakan bahwa itu sudah menjadi tugasnya agar aku merasa bahagia, tanpa tahu bahwa dia adalah kebahagiaanku, termasuk cita dan angannya yang selama ini ia seru-serukan kepadaku.
Ia pernah berharap agar ada wanita yang berdiri di belakangnya dan mendukung segala cita dan angannya. Jikalau ia masih berkenan, aku tak keberatan.
Lalu, hiruk-pikuk kota ini membuyarkan segala pikiranku. Lampu merah dan kemacetan lalu lintas menghapus segala imajinasiku. Aku masih menatap balik layar itu dan berharap ia benar-benar menggubrisnya. Aku menyeruput kopiku terus-menerus. Dan ketika kopiku sudah habis, aku tahu ia adalah fana, walau waktu memanglah abadi.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Mengenai Saya
Arsip Blog
eugenia naomi. Diberdayakan oleh Blogger.
0 komentar:
Posting Komentar